Dua hari kemarin, saya beserta pengurus FUKI lainnya serta calon anggota FUKI baru (AM/FM) melakukan acara yang baru pertama kali FUKI lakukan dalam rangka serah terima jabatan baru dari ketua FUKI lama (Sertiam), Bang Anjar, kepada ketua FUKI baru, Bang Faruk, yang acara penyerahannya dilakukan di Buperta Cibubur. Acara ini mungkin terlihat seperti acara biasa, tetapi ada hal istimewa di balik itu semua. Apa? Hal istimewa itu adalah bagaimana kita bisa tiba di Bupeta Cibubur dengan hanya berjalan kaki dari kampus UI Depok. Subhanallah…Yups, mungkin lebih dari 15 km kita berjalan kaki dari Fasilkom hingga Buperta Cibubur. Dari pukul 01.00 hingga sekitar 06.00 kita berjalan menyusuri jalan setapak demi setapak untuk mencapai kesempurnaan (halah)..
Berikut ini, saya ceritakan perjalanan panjang saya nan melelahkan dan cukup berkesan selama 2 hari kemarin. Kami semua yang berjumlahkan sekitar 24 orang, berkumpul di Fasilkom UI dan mulai start berangkat pada Kamis pagi pukul 01.00. Akan tetapi, izinkan saya untuk menceritakan kegiatan saya sebelum saya dan yang lainnya berangkat. Karena saya pikir acara ini akan membutuhkan waktu lama, maka saya pulang dulu ke kosan guna mandi dan membawa bekal untuk perjalanan nanti. Namun apa mau daya, uang saya di kosan ternyata sudah habis dan saya belum sempat mengambil di ATM. Yasudah, saya melakukan perjalanan itu tanpa bekal sama sekali dan tanpa membawa uang se-sen pun. Sebelum saya mandi, saya sedikit fitness terlebih dahulu di Fitness Center. Sudah 2 minggu ini saya mengikuti fitness di tempat tersebut. Karena saya tidak mau rugi, saya usahakan fitness minimal 3 kali seminggu. Lagian saya juga berniat untuk lebih tinggi dan membentuk badan saya sehingga saya mengikuti fitness ini.
Sepulangnya dari tempat fitness, saya langsung mandi dan sekitar jam 10 malam saya pergi ke kampus dengan sepeda karena kita berencana Qiyamul Lail dahulu di kampus sebelum berangkat ke Cibubur. Sambil menunggu datangnya malam, saya menghabiskan waktu dengan browsing internet dan ber-download ria. Tidak sepeti pada semester-semester sebelumnya, kini akses internet di Fasilkom bisa dibilang cukup kecil baik siang maupun malam hari. Download dari situs lokal saja hanya sekitar 100 kbps. Padahal sebelumnya jika kita sudah mencapai pukul 11.00 ke atas, download file bisa lebih dari itu. Sekitar jam 11.30, sambil menunggu download-an saya selesai dan Qiyamul Lail, saya beristirahat sejenak. Baru sekitar jam 12.30 saya dibangunkan oleh teman saya untuk ber-Qiyamul Lail. Untungnya download-an saya sudah selesai semua. Jadi tidak percuma saya berinternet di malam hari, walaupun tidak banyak film yang saya download tapi sudah cukup untuk menambah koleksi film saya di harddisk. Setelah Qiyamul Lail, maka kami dikumpulkan di sekre square dan dibagi menjadi 3 kelompok kecil agar nanti ketika di lapangan kita tidak usah berbondong-bondong jalan ke Cibubur. Nanti malahan dicurigai oleh orang lain jika kita berpawai seerti itu. Saya yang mendapatkan tempat di kelompok 3 dengan beranggotakan saya, Aulia, Enrico, Topan, Jay, Rizky, Sony, dan diketuai oleh sang ketua FUKI baru, Faruk Candra Farabi. Kita berjalan sesuai dengan nomor kelompok. Jadi, saya dan kelompok 3 mulai jalan setelah kelompok 1 dan 2 berangkat.
Di perjalanan itu, rute dibagi menjadi beberapa pit stop sehingga kita bisa beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya langit di malam hari. Karena pada malam itu juga dilangsungkan pertandingan semi final liga Champions antara Liverpool melawan Chelsea, maka sambil jalan kami mencari orang yang sedang menonton bola untuk melihat sudah skor berapa kedua klub tersebut bermain. Dan akhirnya Chelsea berhasil merebut satu kursi di Final setelah mengalahkan Liverpool dengan skor aggregat 4 – 3. Pada perjalanan yang panjang itu, saya dan yang lainnya hanya bisa berjalan dan berjalan tanpa mengetahui di mana ujung jalan itu. Saya hanya mengikuti kelompok saya kemana kita berjalan sebab jujur saja saya tidak tahu daerah yang saya lewati. Entah saya mau dibawa ke mana nantinya, yang pasti selama kelompok saya masih ada, berarti saya belum nyasar. Setelah 4 jam kita berjalan kaki, kita mencari mesjid terdekat untuk sholat subuh dan beristirahat. Saya lupa nama masjidnya, tetapi ada hal lucu terjadi di mesjid itu. Karena kami yang sudah terlalu letih untuk berjalan lagi, maka sambil menunggu adzan subuh, kita tidur-tiduran di depan mesjid dan tanpa kami sadari ternyata kita tidur-tiduran di samping bedug. Jadi ketika kita sedang asyik tidur-tiduran, tiba-tiba kami tersontak bangun. Dug..dug…dudug..dug…tretek..tek..tek… Kami langsung kaget ketika pangurus mesjid itu memukul bedug, tanda adzan subuh mau dimulai, karena kami tepat sekali di bawah bedug tesebut. Yasudah ,kami langsung bangun dan mengambil air wudhu di mesjid itu. Setelah selesai wudhu, maka kami pun berjamaah sholat subuh dan setelah itu, saya berdoa sebentar lalu..zzz…zz…zz….zzz….Mata ini benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Rasa lelah yang menghampiri tubuh ini membuat badan ingin diistirahatkan sebentar saja. Maka saya beserta teman-teman seperjuangan lainnya pun tidur di dalam mesjid itu hingga pukul 05.30 an. Sebenarnya saya masih ingin melanjutkan tidur, tetapi karena kita juga ingin buru-buru tiba di Cibubur, maka kami pun beranjak dari mesjid itu. Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Dengan rasa ngantuk yang masih membekas, saya pun berjalan dengan gontainya. Untuk mengembalikan semangat lagi, maka saya pun mendengarkan musik dari handphone saya. Saya pilih lagu yang agak sedikit punk-rock agar semangat ‘45 saya kembali. Dan akhirnya kita menemui Cibubur Junction. Ini berati Buperta Cibubur hanya tinggal beberapa meter lagi. Maka kami pun dengan semangat kembali berjalan. 1..2..1..2..1..2…
Setelah beberapa menit kemudian, saya melihat papan penunjuk jalan. Buperta Cibubur, belok kanan.
Alhamdulillah...akhirnya misi kita kali ini akan terselesaikan juga. Dan setibanya di sana, ternyata akhwat-akhwat pun belum tiba di sana. Oh ya, kami dan akhwat memang tidak berjalan bersama. Akhwat pergi ke sininya dengan naik mobil karena tidak mungkin jika akhwat disuruh jalan kaki sama dengan kita. Kemudian, setelah tiba di pintu masuk Buperta, ternyata kami harus merogoh uang kami sebesar Rp 3.000 / kepala. Karena saya yang benar-benar tidak bawa uang sama sekali, maka saya pun meminjam uang kepada teman saya sekaligus ketua FUKI baru kita, Faruk Candra Farabi. Akhirnya saya dan teman-teman lainnya pun bisa masuk ke area Buperta itu. Setelah menijau dan melihat area itu, ternyata tempatnya tidak terlalu berbeda dengan kawasan UI. Lalu, kenapa kita tidak di UI saya? Mungkin karena kita ingin mencari suasana baru sekaligus membesarkan betis kita dengan berjalan berpuluh-puluh kilometer. Sambil menunggu akhwatnya datang, kami pun bermain bola. Permainan pertama kami yaitu bola tangan. Kita dibagi menjadi 3 grup lagi, tetapi berbeda dengan yang tadi. Di pertandingan itu, setiap grup yang kalah, harus bergantian main dengan grup lainnya. Dari pertandingan itu, tim sayalah yang sedikit terjadi pergantian tim. Bukan berarti saya sombong, tapi memang begitulah kenyataanya. Kemudian, beberapa menit berlangsung, para akhwat pun ternyata sudah datang. Lalu, cuek saja..kami pun langsung kembali bermain karena sedang asyik-asyiknya. Lalu beberapa menit kemudian, teman kami, Bang Anto beserta ehm..ehm.., datang membawa makanan dan minuman. Nah, kalau ini baru pertandingan dihentikan. Kemudian, salah satu panitia acara ini, Mas Agung membawa berita buruk bagi kami. Berita yang benar-benar membuat mimpi-mimpi kami hancur. Dia mengatakan bahwa sebenarnya tarif masuk ke area Buperta ini adalah Rp 6.000 / kepala dan karena kami menawar Rp 3.000 / kepala, maka kami tidak boleh bermain di lapangan yang sedang kami mainkan ini. Karena kita ini adalah calon-calon pendakwah kampus, maka kita tidak mau ribut dengan pengurus Buperta ini. Akhirnya kami pun mengalah dan mencari lapangan yang memang boleh digunakan oleh kami. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya kami menemukan lapangan yang memang dibolehkan oleh kami untuk bermain. Karena tadi kita sudah kelelahan saat bermain bola tangan, maka kami berganti permainan yaitu bola kaki. Mungkin karena sudah banyak teman-teman yang lainnya kelelahan, maka kami hanya dibagi menjadi 2 kelompok dalam permainan ini. Sedangkan yang lainnya beristirahat dan bergantian main jika ada yang kelelahan saat pertandingan berlangsung. Seperti biasa, di pertandingan ini saya berhasil memenangkan tim saya dengan skor 2 – 1. Bukanyanya saya sombong, tapi memang itulah faktanya. Saya berhasil memborong 2 gol dan bisa dibilang gol-gol itu cukup spekatakuler. Gol pertama saya ciptakan dari jarak jauh. Karena saya melihat sang kiper lawan agak terlalu maju dari gawang, maka saya pun langsung melambungkan bola ke arah atas kiper, dan sang bek lawan pun gagal menghalau bola itu. Ini mengingatkan saya dengan gol Ronaldinho ke gawang Inggris saat Piala Dunia dimana kiper Inggris, Peter Seaman terkejut ketika bola tendangan bebas Ronaldinho merobek gawangnya. Sedangkan gol kedua, saya ciptakan dari sundulan keras saya. Tembakan sudut yang diambil oleh Kak Yans berhasil saya manfaatkan dan hasilnya, kiper lawan, Bang Anjar terlihat kaget ketika saya menyundul bola dan melewati selangkangan kaki Bang Anjar tersebut. Ini juga mengingatkan saya akan gol Zinedine Zidane ketika Prancis melululantahkan Brasil dengan skor 3 – 0 di final Piala Dunia 1998 silam. Kemudian, setelah pertandingan selesai, saya dan anggota lainnya pun beristirahat dan mengisi perut ini dengan makanan yang dibawa oleh Bang Anto dan ehm..ehm..nya.
Setelah makan, maka para ikhwan dan akhwat pun dikumpulkan di salah satu lapangan yang ada di area itu untuk mengadakan acara puncak, yaitu penyerahan jabatan. Sebelum penyerahan jabatan, saya dan beberapa temana saya mengisi acara itu dengan sedikti drama komedi yaitu drama tentang Palang Pintu. Saya yang kebagian peran sebagai pesilat mendapatkan adegan bersilat dengan pesilat tangguh lainnya. Seorang pesilat yang terobsesi menjadi seorang hokage. Pesilat itu tidak lain dan tidak bukan adalah Indra ‘Chamatz’ Firmancahya. Dan di pertandingan itu, saya berhasil dikalahkan olehnya. Ternyata saya tidak menyangka, dengan tubuh yang agak mungil itu ternyata tersimpan kekuatan yang tidak terduga. Mungkin jika Jackie Chan berhadapan melawan Indra, Si Jackie tdak terperdaya melawan kecanggihan bertarung si Indra. Setelah drama komedi itu selesai, maka barulah dilanjutkan acara puncaknya yaitu penyerahan jabatan dari ketua FUKI lama, Bang Anjar, kepada ketua FUKI baru kita, Faruk Candra Farabi. Penyerahan itu ditandai dengan penyerahan jaket FUKI kepada Faruk dan serentak kami pun bertakbir. Allahu Akbar….
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sedikit tausiah dari ketua lama kita, Ustadz Anjar. Dan setelah itu, barulah acara hari ini ditutup oleh doa yang dibawakan oleh ustadz kita yang sangat handal sekali, Ustadz Haris. Saat itu waktu menujukkan pukul 10.00-an. Dengan ditutupnya acara ini, maka selesailah serangkaian acara saya pada 2 hari kemarin. Acara yang sangat berkesan dan mudah-mudahan tahun depan bisa terlaksana lagi. Karena tahun ini kita berjalan dari Depok ke Cibubur, maka mudah-mudahan tahun depan kita bisa berjalan dari Depok ke Priok. Setelah dari Priok, saya bisa pulang ke rumah dan teman-teman lainnya, terserah…!hehehe…^^



May 5, 2008 at 8:57 am
halah…ki Ringo mah terlalu membesar-besarkan nih…
khan emang udah scenario klo chamz yg menang..
haha..
May 6, 2008 at 8:53 am
Wah, kerenn…
detail bgt.
Setau saya, orang yang membawa kabar buruk tersebut memang dikenal ganteng. Bukannya sombong, tapi memang begitulah kenyatannya.
May 6, 2008 at 10:10 am
@indra
beneran koq ndra, ane kapok dech ngelawan “kedahsyatan” bertarungnya calon hokage…hehehehehe,,,,:D
@mas agung
subhanallah…mas agung ternyata gak sombong, tapi ganteng…..hehehehe….:D
May 8, 2008 at 10:08 am
Wah sepertinya menarik,
sayang saya tidak bisa hadir karena harus memimpin syuro…
Sudah liat saya videonya..Hehehe…
May 8, 2008 at 10:15 am
@berli
lagian c gak ikut….nyesel khan….hehehehe…:p